'Wanita Mulia',

Go down

'Wanita Mulia',

Post  Admin on Mon Nov 30, 2009 10:20 am

'Wanita
Mulia',



Mengantar
15 Anaknya dengan Modal Ikhlas



Oleh
wongfehong



Rabu,
12-April-2006, 08:34:27 5 klik  



Sebagaimana
namanya, ia 'wanita mulia'. Ditinggal suaminya, ia mendidik sendiri 15 anaknya
sampai meraih sarjana. Tak pernah memukul atau kata kasar. Modalnya Ikhlas,
katanya.



Hidayatullah.com
-- Jika ukurannya gelar akademis, Mulia Kuruseng termasuk orang yang sukses
dalam mendidik anak. Janda beranak 15 ini berhasil mengantarkan anak-anaknya
menggapai gelar sarjana, ada yang profesor, doktor, master, insinyur, dan
letnan.



Sejak
tahun 1985, Mulia menjadi single parent (orangtua tunggal) bagi 15 anaknya.
Saya berfungsi sebagai ibu sekaligus bapak, ungkapnya bersemangat. As'ad, sang
suami, meninggal pada Oktober 1985 akibat penyakit hipertensi dan jantung.



As'ad
seorang pedagang kain, pakaian jadi, dan sarung Bugis di Pare Pare (Sulawesi
Selatan). Waktu itu, As'ad termasuk seorang pengusaha yang sukses. Omset
usahanya tiap bulan mencapai Rp 100 juta.



Mulia
bukan seorang guru apalagi bergelar sarjana, tapi hanya tamatan SD. As'ad pun
cuma tamat SMA. Saya menikah saat kelas II Muallimin, saya hanya punya ijazah
SD, kenangnya.



Bagaimana
bisa ibu rumah tangga ini sukses mengantar 15 anaknya meraih berbagai gelar
akademis? Wartawan Hidayatullah menyempatkan diri untuk berbincang-bincang
dengan nenek dari 24 cucu ini di kediamannya, Jl Matahari No 20 Pare-Pare.



Bagaimana
perasaan Anda dalam membesarkan 15 anak sendirian?



Saya
tidak pernah mengeluh. Saat itu saya tidak berpikir bagaimana nanti. Saya nekad
saja. Alhamdulillah, Allah selalu berikan saya rezeki sedikit demi sedikit.



Apa
saja yang Anda lakukan?



Saya
berusaha melanjutkan usaha Bapak. Kan Bapak punya kios, ada barangnya. Dulu
Bapak berhasil. Tetapi saat meninggal, semua piutang tersendat.



Saya
sampaikan kepada anak-anak agar tetap melanjutkan sekolah. Jangan ada yang
berpikir putus sekolah. Kan 
masih ada Tuhan. Alhamdulillah, itu semua terwujud. Waktu itu yang bungsu
berusia tiga tahun.



Bagaimana
dengan anak-anak yang masih kecil waktu itu?



Kebetulan
waktu itu anak yang kedua (Suryani) dan ketiga (Indriyati) sudah menikah.
Indriyati sebenarnya belum selesai kuliah, tapi dia sudah menikah. Merekalah
yang banyak membantu saya mengurus adik-adik. Merekalah yang men-support adik-adiknya
untuk maju sekolah.



Apa
yang paling Anda tekankan dalam mendidik anak-anak?



Prinsip
saya mendidik anak-anak ada tiga hal, yaitu ikhlas, jujur, dan sabar. Kejujuran
saya tanamkan sejak mereka kecil, ini turunan dari kakeknya. Kami dulu dididik
untuk senantiasa jujur. Jika ada makanan di meja, tidak ada yang langsung mau
makan, harus dibagi dulu. Jika ada uang di meja, mereka berteriak mencari siapa
yang punya. Jadi, di rumah ini tidak pernah terjadi kehilangan uang.



Dengan
15 anak, untuk bersikap sabar tentu berat ya. Pernahkah Anda memukul atau
mencubit mereka?



Saya
tidak pernah memukul mereka. Contohnya, si bungsu pernah mogok makan.
Gara-garanya minta dibelikan sepeda motor karena temannya semua sudah beli
motor. Saya tidak marah. Saya hanya bersabar. Tiba-tiba temannya yang punya
motor tabrakan dan meninggal dunia. Saya sampaikan kepada dia, Saya sayang kamu
Nak. Apalagi memang saya tidak punya uang.



Saya
selalu mengeluarkan bahasa-bahasa yang sopan. Mereka tidak pernah dipukul, juga
tidak pernah dibentak. Jika ada yang salah, saya tegur saat dia lagi sendiri
agar tidak tersinggung, di saat adik atau kakaknya tidak ada



Jika
ada yang mau saya tegur, saya carikan waktu khusus. Karena jika anak nakal
satu, bisa jadi nakal semua. Saya selalu ingatkan dengan bahasa sopan.
Anak-anak ini semua (sambil menunjuk foto-foto mereka) tidak ada yang pernah
kena cambuk.



Kalau
marah sama mereka, saya pergi wudhu kemudian shalat sunah. Nanti setelah tenang
baru saya nasihati mereka.
 


(Hasmi
As'ad (48), anak sulungnya, mengaku belum pernah merasakan kerasnya tangan
ibunya. Saya kira adik-adik juga begitu, kata dokter yang kini menjadi Kepala
Kesehatan Pertamina Wilayah Selatan.



Kalau
marah, katanya, sang ibu biasanya diam. Baru beberapa saat kemudian Ibu bicara,
ujarnya.



Bagaimana
menanamkan keikhlasan



Saya
tidak pernah berpikir untuk mendapat gantinya, atau anak-anak membalas
jasa-jasa saya. Tidak, saya betul-betul ikhlas.



Saya
juga tekankan pada mereka untuk ikhlas dalam memberi. Jika saya minta mereka
membantu adik-adiknya, harus betul-betul ikhlas, jangan dipaksakan. Saya bilang
kepada yang punya istri, jangan bebani istrimu. Jika tidak setuju, jangan
dilakukan. Tetapi justru menantu-menantu yang paling dulu memberi. Mereka
bilang, Kami ikhlas.



(Keluarga
ini punya kebiasaan saling membantu, bila saudaranya yang lain memerlukan dana.
Contonya saat Sumarni (anak ke-14) mau beli mobil, Mulia menghubungi
anak-anaknya yang lain. Akhirnya mereka patungan, ada yang memberi Rp 5 juta,
Rp 10 juta, sehingga terkumpul 70 juta untuk beli mobil).



Dalam
hal ibadah, bagaimana Anda mendidik anak-anak?



Saya
tidak pernah menyuruh mereka untuk shalat, tetapi saya harus mencontohkannya.
Saya dulu yang kerjakan, baru kemudian saya suruh mereka. Kita tidak bisa suruh
anak-anak sebelum kita mencontohkannya.



Untuk
kesehariannya, saya melarang anak-anak memasukkan urusan-urusan di luar ke
dalam rumah, termasuk juga dalam berbahasa. Bahasa yang tidak dipakai di rumah
dilarang masuk ke dalam rumah. Bahasa di luar dipakai di luar saja, tidak boleh
masuk ke dalam rumah.



Dalam
hal ruhani, kebetulan saya bertetangga dengan KH Abdul Pa'baja (ulama besar di
Pare Pare). Beliau juga yang banyak membantu menanamkan nilai-nilai moral pada
anak-anak. Di sinilah terbentuknya fondasi anak-anak.



Semua
anak Anda bergelar sarjana, apakah memang ditekankan soal ilmu?



Oh,
tidak. Saya cuma tekankan bahwa siapa yang tidak sekolah ayo bantu ibu.
Akhirnya mereka semua mau sekolah. Saya juga buat persaingan di antara mereka.
Saya tidak pernah secara langsung menekankan mereka untuk sekolah, saya hanya
buat persaingan. Siapa yang rangking I akan lebih tinggi hadiahnya daripada
yang rangking II. Jadi, mereka terus berlomba.



Mereka
rata-rata rangking satu, dan SD-nya lima 
tahun.



Saya
tidak pernah menyogok, baik ketika anak-anak sekolah ataupun mencari pekerjaan.



Rezeki
itu datangnya dari Allah, tidak perlu disogok. Insya Allah, di rumah ini
bersih. Untuk bekerja, anak-anak bilang, Saya tidak usah bekerja jika harus
menyogok.



Mengapa
tidak berpikir untuk menikah lagi?



Wah,
siapa yang mau mengurus anak sebanyak ini? He...he.... Yang jelas sejak suami
meninggal, saya berjanji untuk melanjutkan perjuangannya dengan menyekolahkan
anak-anak. Bahkan saya pernah bersumpah untuk itu, saat suami saya di rawat di
rumah sakit.



Apa
aktivitas Anda sekarang?



Saya
di rumah saja, kadang ke pasar jaga toko, itu pun tidak serius. Saya hanya
duduk, berdzikir, dan mengaji. Jika di toko, saya kadang menghabiskan dua juz
dari pagi hingga Dhuhur. (Sarmadani, Makasar/hidayatullah.com)



 


 


 
Admin
Admin
Admin
Admin

Male Jumlah posting : 364
Age : 32
Location : Pontianak
Registration date : 23.12.07

Lihat profil user http://thabaraq.com

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik