pelajaran berinfaq

Go down

pelajaran berinfaq

Post  Admin on Mon Nov 30, 2009 10:11 am

Semenjak kedua putri saya mengenal uang dan sedikit memahami

nilai serta kegunaannya, sejak saat itulah saya mulai mengajarkan
dua hal; menabung dan berinfak. Meski hanya beberapa jenis satuan
mata uang saja yang dimengertinya, terutama untuk satuan di bawah
lima ribu
rupiah, menabung dan berifak semestinya memang menjadi
kebiasaan untuk mereka.

Dari dua kebiasaan yang sedang ditanamkan itu, hanya satu yang bisa
dimengerti oleh kedua putri saya, yakni soal menabung. Ya, mereka
mengerti betul bahwa menabung akan membuat ia memiliki uang yang
cukup untuk membeli sesuatu. Misalnya, ketika mereka hendak membeli
mainan tertentu dengan harga yang sedikit lebih mahal. Maka serta merta
mereka akan menanyakan berapa jumlah tabungan yang ada, atau setidaknya
langsung membuka penutup kaleng ‘celengan’ miliki mereka masing-masing
kemudian menghitungnya.

Bagaimana dengan satu kebiasaan lagi? Tentang berinfak. Selama ini saya
akui sedikit bingung untuk memberikan penjelasan yang bisa diterima logika
sepasang anak di bawah usia enam tahun tentang manfaat berinfak. Baik,
saya sudah mengajarkan dan mencontohkan langsung bagaimana berinfak,
kepada siapa dan untuk apa berinfak. Tetapi pertanyaan-pertanya an polos
mereka membuat saya berkeyakinan bahwa mereka belum benar-benar
mengerti tentang infak. Misalnya, pernah suatu kali saya mengajarkan
langsung agar mereka memberikan sejumlah uang untuk anak yatim.
Kemudian mereka berujar, “Memang Ayahnya nggak kerja? Kok kita
yang ngasih uang?”

Atau ketika seseorang yang kami persilahkan untuk makan di rumah kami,
tiba-tiba saja putri kedua saya berseloroh polos, “Memang ibunya di rumah
nggak masak ya?” Tentu saja kami harus meminta maaf teramat sangat
kepadanya, khawatir perasaannya terluka oleh kalimat si kecil itu.

Anak-anak tidak cukup memahami kalimat, “Allah senang kalau kita bisa
membantu orang lain” atau terlebih kalimat, “Berinfak itu, untungnya buat kita.

Kita akan mendapatkan keuntungan berlipat ganda dengan berinfak”. Meski
kalimat-kalimat tersebut sudah saya ubah menjadi kalimat yang lebih pas dan
lebih bisa dipahami untuk usia mereka, tetap saja kesimpulan mereka
tidak berubah. Bahwa menabung lebih baik daripada berinfak. Dalam
batas pikiran mereka, menabung sama dengan menyimpan dan
mengumpulkan uang. Uangnya terlihat, tidak berkurang dan terus
bertambah sehingga suatu saat bisa digunakan untuk membeli sesuatu
yang diinginkan.

Tetapi berinfak, mereka lebih melihatnya sebagai ‘membuang’ uang,
atau memberikan uang secara cuma-cuma kepada fakir miskin, pengemis,
anak yatim atau kaum dhuafa (lemah) lainnya yang sangat membutuhkan.
Anak-anak pun tidak mampu menangkap manfaat langsung dari berinfak.
Misalnya ketika pada satu kesempatan mereka meminta sejumlah uang
untuk jajan, kemudian saya bilang uangnya sudah habis, lantas mereka
berkata, “Tadi uangnya dikasih tukang minta-minta sih…” Nah, dalam
perspektif mereka, berinfak itu merugikan.

Setelah sekian lama, akhirnya saya mulai bisa menemukan sedikit cara
memberikan pemahaman tentang berinfak kepada kedua putri saya.
Suatu hari saya membelikan mereka
mainan saat pulang dari kantor.
Mereka sangat bahagia mendapatkan mainan itu, namun cukup kritis
untuk bertanya, “Katanya Abi nggak punya uang? Kok bisa beliin mainan?”

Di sinilah kesempatan pelajaran berinfak itu datang. Lalu saya mengajaknya
berdialog, “masih ingat nggak waktu teteh sama dede ngasih uang ke tukang
minta-minta kemarin?” mereka pun mengangguk. “Nah, karena teteh dan dede
sudah baik sama tukang minta-minta itu, Allah sayang sama kita. Uang yang
Abi pakai untuk membeli mainan ini, hadiah dari Allah karena memberi
uang untuk tukang minta-minta”.

Begitu seterusnya, setiap kali saya membelikan apapun untuk anak-anak.
Selalu menjelaskan, bahwa ini hadiah dari Allah karena sudah berinfak.
Hingga suatu hari, saya merasa mereka sudah mulai memahami ketika
mendengar anak saya berkata, “pasti hadiah dari Allah” saat saya
membawakan lagi sesuatu untuknya. Kemudian mereka pun mengingat-ingat,
beberapa hari lalu baru saja memberi uang kepada petugas pengumpul
infak masjid di jalan raya.

***

Berinfak sesungguhnya pun menabung. Menabung, hanya sejumlah yang
ditabunglah yang didapat. Tetapi
berinfak, yang didapat kembali jauh
lebih banyak dari yang kita berikan. Berinfak, tidak (hanya) berbunga,
bahkan berbuah. Buahnya sangat manis untuk dinikmati, dan takkan
pernah habis karena akan terus bertambah dan bertambah. (Gaw)


http://www.eramusli
m.com/atk/ oim/7420140341- pelajaran- berinfak. htm

Admin
Admin
Admin
Admin

Male Jumlah posting : 364
Age : 32
Location : Pontianak
Registration date : 23.12.07

Lihat profil user http://thabaraq.com

Kembali Ke Atas Go down

Kembali Ke Atas


 
Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik